Kalo
urusan sekolah, aku termasuk orang yang rajin. Rajin berangkat telat, rajin ga
bikin PR, rajin jajan dikantin. Ehh, bukan bukan. Ralat, maksudnya rajin
berangkat. Dari dulu aku emang jarang banget absen sekolah. Selain karna ga mau
ngerelain uang jajan walau sehari, disekolah juga seruu. Banyak temen temen
kocak.
Nah,
beberapa waktu lalu aku absen. Pertama kalinya sejak aku SMA. Bukan karena
sakit berat sebenernya sih, Cuma sekujur tubuh ku kena bakteri yang namanya
Bakteri Manjanensis. Bakteri ini menyebabkan virus berbahaya menyerang tubuhku.
Seperti virus kepengenin tidurane seharianee. Gejalanya, kepala ga mau lepas
sama bantal. Pantat juga ga mau pisah sama kasur.
Pagi
itu, seperti biasa aku bangun jam 5. Mataku yang terasa masih berat mengangkat
kelopaknya terus ku paksakan terbuka. Tubuh yang benar-benar tak rela
terpisahkan dengan kasur pun harus dengan berat berdiri. Singkatnya, Aku masih
ngantuk. Ku paksakan kulitku waktu itu untuk menyentuh dinginnya air wudlu.
Lalu melanjutkan aktivitas rutin tiap pagi: Sholat Shubuh. Baru beberapa saat
terpisah, rasanya tubuhku waktu itu sudah merindukan empuk dan nyamannya kain
yang dijahit dan diisi kapuk (baca: kasur). Tanpa berfikir panjang, ku rebahkan
kembali tubuh yang sudah mirip tong ini ke kasur. Sambil menekan ponsel. Pagi
itu juga kuputuskan untuk absen sekolah. Ku beritahukan rencana absen ku saat
itu pada temanku, Lilis. Juga kupinta dia untuk mampir dulu kerumah ku agar aku
bisa titip surat ijin. Yah, namanya teman kadang ada buruknya.
Dia
merengek lewat pesan SMS untuk meminta ku mengerjakan PR ekonomi agar dia bisa
cepat-cepat mandi dan bergegas ke rumahku. Apa boleh buat. Ku kerjakan saja
seadanya dalam selembar kertas putih.
Setelah
dia mampir dan langsung pergi ke sekolah, ku bantu tubuhku ini melepas rindunya
kepada kasur, ya, aku pertemukan. Tak lama kemudian aku tertidur. Pukul 12
siang, aku terbangun dari tidur nyenyak ku itu. Ku aktifkan layar ponsel.
Ternyata ada SMS dari teman-teman yang menanyakan alasan ketidakhadiranku dalam
kelas hari itu. Isinya kurang lebih seperti ini, ‘Kamu Kenapa?’ ‘Sakit apa? Kok
ga masuk sekolah’ ‘Kamu gapapa kan?’ ‘Mama minta pulsa 20rb, mama lagi di
kantor polisi.’ Eh ralat, yang terakhir itu tidak termasuk. Sengaja tidak
kubalas semua pesan mereka. Pasti malu lah kalo mereka tau yang sebenernya.
Aku
juga menge-cek sosmed ku. Twitter? Sepi. Pesbuk? Iya. Ada pesan. Kubuka.
Ternyata inbox dari temanku yang bilang ‘GWS Sayung’ agak risih memang karna
kami sejenis. Aku takut bila kujawab dengan kata ‘sayung’ juga akan keterusan,
kejauhan, lalu muncul fitnah. Hanya kujawab singkat ‘Oke’. Ku cek notif ku.
Ternyata ada dua teman ku yang bikin status men-tag aku yang isinya hampir
sama. Ngucapin GWS. Hanya saja yang satu ada permintaan maaf karna belom bisa
jenguk. Sedangkan yang satunya lagi pernyataan tidak percaya bahwa aku sakit.
Kenapa dia bisa tau? Entah.
Seharian
itu aktivitas ku hanya tidur-makan-tidur lagi-makan-tidur-ngupil. Dalam surat
ijin tertulis bahwa aku sakit, padahal tidak. Apakah aku berdosa ? Aku telah
berbohong. Oh.. Apa aku dosa ? apa aku dosa ? Hanya Tuhan-lah yang tahu.
*tapi sekalikali boong gapapa kali yaa* #dijewer bu guru# *ampun buu, ga lagi lagi deh* Ehh, BTW jangan
kasih tau siapa-siapa yaa. :D
(Pesan:
Don’t try this at home!)
wkwkwkkww.... ending yang buruk..
BalasHapusdont try this at home :v
haha
BalasHapusNk rk millo rk ono ancen. Cah kamvreet
BalasHapus